Jumat, 25 Mei 2012

Rindu berat sama AK.A

Saat gue menulis postingan ini gue lagi RINDU BERAT sama teman-teman seperjuangan gue. Mereka adalah seluruh penghuni kelas Akuntansi.A yg disingkat AK.A, yap.. mereka adalah teman sekelas gue. Hampir 6bulan *saat ini* gue ga belajar dan main di kelas bareng mereka ya dikarenakan kita semua lagi prakerin.
Gue yang kebetulan adalah Ketua Kelas mereka ehem ehem hehehe sangat merindukan suasana-suasana kelas yang tiap saat bisa berbeda. Kadang kalo lagi belajar nih pas lagi dapet guru yang ga enak pasti ada yang senderin kepala ke meja, ngobrol sama teman, pura-pura perhatiin padahal pikiran kemana-mana, ada juga yg maksa perhatiin padahal gue tau dia ngantuk berat tapi ada juga yang bener bener perhatiin tuh guru berarti tuh anak anak pinter hahaha 
Introduce dulu ya hehe... ini nih Akuntansi-A
Mulai dari kiri atas ya, ada Putri Wulandari as Pewe, Selvine, Afra, Isti, Intan, Vanti, Try, Hanifah, Dara, Ika Fitriyah as Nenek, Ika W, Pinka, Ganesha.
Nah kiri yang tengah, Maulidya, Dini, Fitrah, Amel, Nindy, Sabila, Maudy, Ayu, Suryeni.
Kiri bawah yeah ada Riana (gue loh), Devita, Ane, Hafidz (perjaka ak.a wihihi), Okta, Savira (eemak) dan Mia.
Suka duka gue dan kawan kawan telah kita lewati selama hampir 2tahun, dukanya banyaaaaaak sukanya juga ga kalah banyaaaaaaaaaaaaaaaak. Mulai dari dukanya dulu ya, saat kita duduk di kelas 10 semester2 kita kehilangan sahabat kita yang berpulang ke rahmattulah Almh. Putri Surya Andani karena penyakit yang ia derita itu merupakan pukulan terberat kami karna ia adalah teman yang sangat baik. Kita pun sempat susah, capek dan pusing dengan jadwal sekolah yang berangkat pagi jam 07.00 s/d 17.00 itu kelas gue alamin pas XI AK.A semester 1 karna ngejar materi untuk persiapan prakerin. Sukanya, canda canda yang tercipta tidak sengaja saat di kelas hahaha gue banyak mengabadikan foto foto terjelek temen temen gue ada yang lagi tidur, beraksi dengan muka yang kurang enak dilihat, pokoknya yang paling engga banget deh.

Sekarang gue sadar betapa sayangnya gue ke mereka, walaupun pernah dibuat kesal dan jengkel tapi celotehan mereka lah yang bikin gue kangen sampe segininya sampe pake banget kalo kata wakil gue si sabila banget banget banget banget banget wah bangetnya berapa tuh?
Karna mereka gue pernah dipanggil ke tengah lapangan karna kelas gue belum ngumpulin uang pensi yg jatuh temponya hari itu, demi mereka flashdisk gue rusak karna sana sini nyolok komputer menyebabkan virus mematikan di flashdisk gue, gue rela panas panasan buat mondar mandir ke toko matrial buat nyari cat yang saat itu mau dipake buat grafitty classmeeting dan.. TANPA MEREKA GUE BUKAN APAPA. Mereka punya andil besar buat gue tumbuh menjadi dewasa, gue bisa belajar sabar dan memimpin sebuah kelas yang hanya ada 1 cowok dan sisanya kaum wanita yang bermacam-macam karakternya. Bukan hal yang gampang memimpin satu kelas yang mayoritas wanita, kita sering berbeda pendapat dan kadang juga ada yang masa bodoh katanya sih “yaudah dah gue ikutin lo aja riiii...” hahaha oke mamen ;)
Ini hanya segores coretan yang kita ukir sama sama di kelas X ak.a kemudian berlanjut di XI ak.a nah.... hari esok adalah tantangan kita selanjutnya, kita buka lembaran baru bersama dengan sampul baru yaitu XII AK.A terimakasih AK.A atas partisipasi kalian yang udah buat hari-hari di sekolah gue makin berwarna^^ AKUNTANSI A la.. la.. la.. yee.. yee.. yee   
   
Jadoel banget ya.. ini di ambil waktu kita bikin mading untuk pertama kali di kelas X ak.a

Kamis, 10 Mei 2012

Akhir Hayat Penggemar Musik dan Pecinta Al Qur'an


Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar.
Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…
(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]...

Selasa, 08 Mei 2012

Jika Kematianku Datang


Berbicara soal ‘Kematian’ memang mengerikan dan menakutkan tapi kita harus menyadarinya. Manusia luar biasa pun tak luput dari kematian bukan? Seseorang akan dikenang jasa dan pengorbanan selama hidupnya jika orang tersebut sudah tiada, itu hal yang sering saya temukan dan saya alami.
Saya sering berpikir apakah nanti ketika saya telah tiada apa yang mereka ingat dari saya?
Tangisan seperti apa yang mereka keluarkan?
Bagaimana dengan orang yang menyayangi saya setelah saya tiada?
Hanya tuhan lah yang tau sampai kapan umur manusia dan seperti apa kita akan meninggal, itulah kuasa tuhan dan rahasia illahi.
Terlintas dipikiran dan benak saya jika saya telah tiada saya ingin mendonorkan seluruh organ vital manusia, mulai dari mata saya, hati saya, ginjal saya, otak saya sampai jantung saya jika mereka semua masih berfungsi dengan baik. Setidaknya dalam keadaan mati pun saya masih bisa membantu beberapa orang. Banyak sekali tujuan dari harapan ini selain yang saya utarakan di atas, jika saya mendonorkan beberapa organ tersebut setidaknya raga yang telah saya rawat dan saya jaga tidak akan membusuk.
Jika saya tiada, mata saya masih dapat melihat dunia ini, hati saya masih tetap hidup dan merasakan kehidupan di dunia ini, ginjal saya masih berfungsi, otak saya masih dapat digunakan untuk berpikir dan jantung yang masih berdetak meskipun itu semua ada di raga orang lain. 

"Wahai Allah...
Disaat ajal menjemput...
Tiada lagi yang dapat kubawa mati
Semua harta, pangkat, jabatan, suami /istri anak tiada yang dapat kubawa mati
Jasadku pun tiada dapat kubawa mati
Yang kubawa adalah ruhku yang berpulang kembali padaMu"